Tuesday, October 05, 2010

Kecerdasan Spiritual


Kecerdasan Spiritual (Spiritual Quotient)

Adalah Donah Zohar dan Ian Marshall dua nama yang selalu disebut ketika dihadirkan konsep kecerdasan spiritual. Dalam karyanya SQ: Spiritual Intelligence the Ultimate Intelligence, yang diterbitkan tahun 2000, Zohar dan Marshall mendakwahkan kecerdasan spiritual sebagai puncak kecerdasan, setelah kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, dan kecerdasan moral. Meskipun terdapat benang merah antara kecerdasan spiritual dan kecerdasan moral, namun muatan kecerdasan spiritual lebih dalam, lebih luas dan lebih transenden daripada kecerdasan moral.
Kajian tentang SQ ini sangat menarik kaum ilmuwan, karena di dukung juga oleh temuan baru Prof. V.S. Ramachandran yang memimpin para ahli bedah syaraf Universitas California di San Diego yang berhasil mengidentifikasikan apa yang disebut dengan God Spot atau God Module yaitu tempat tertentu di dalam otak yang secara spesifik merespon segala sesuatu yang bersifat spirirtual.
Kecerdasan spiritual bukanlah doktrin agama yang mengajak manusia untuk 'cerdas' dalam memilih dan memeluk salah satu agama yang dianggap benar. Kecerdasan spiritual lebih merupakan sebuah konsep yang berhubungan dengan bagaimana seseorang 'cerdas' dalam mengelola dan mendayagunakan makna-makna, nilai-nilai dan kualitas-kualitas kehidupan spiritualnya. Kehidupan spiritual disini meliputi hasrat untuk hidup bermakna (the will to meaning) yang memotivasi kehidupan manusia untuk mencari suatu makna hidup (the meaning of life) dan mendambakan hidup bermakna (the meaningful life).
Dannah Zohar dan Ian Marshall (2000) mendefinisikan kecerdasan spiritual adalah kemampuan untuk mengenali aspek keilahian dalam diri serta mengikuti jalan yang ditunjukkan baginya adalah suatu kapasitas manusia atau yang juga disebutnya sebagai SQ (Spiritual Quotient)
Lebih jauh lagi mereka mengatakan bahwa SQ adalah kecerdasan untuk mengatasi dan memecahkan persoalan makna dan nilai, yaitu kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain. SQ yang tinggi ditandai dengan adanya kemampuan untuk mengenali hal-hal yang paling bermakna bagi dirinya serta kemampuan untuk mengikuti kata hatinya.
SQ memungkinkan adanya dialog antara kecerdasan dan emosi; antara pikiran dan tubuh. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa tindakan bukanlah hanya aktifitas fisik belaka, namun tindakan mencakup kemampuan berpikir (intelegensi) dan juga didukung oleh aspek emosional yang tepat. Dengan demikian maka SQ adalah kecerdasan yang tertinggi, melebihi kecerdasan manusia yang telah lebih dahulu diidentifikasi (IQ dan EQ) karena dalam SQ dimungkinkan pengabungan antara IQ dan EQ secara optimal.
Dapat dikatakan bahwa SQ adalah kecerdasan jiwa, yang secara aktif membantu setiap individu untuk sembuh dan membangun diri secara utuh. SQ juga mengajak manusia untuk kreatif di dalam mencari nilai-nilai baru, membuat cara pandang baru terhadap arti hidup individu.
Kecerdasan spiritual sebagai bagian dari psikologi memandang bahwa seseorang yang beragama belum tentu memiliki kecerdasan spiritual. Acapkali mereka memiliki sifat fanatisme, ekslusivisme, dan intoleransi yang berlebihan terhadap pemeluk agama lain, sehingga mengakibatkan permusuhan dan peperangan. Namun sebaliknya, bisa jadi seseorang yang humanis-non-agamis memiliki kecerdasan spiritual yang tinggi, sehingga sikap hidupnya inklusif, setuju dalam perbedaan (agree in disagreement), dan penuh toleran. Hal itu menunjukkan bahwa makna "spirituality" (keruhanian) disini tidak selalu berarti agama atau bertuhan.
Yang paling baik menurut Ary Ginanjar Agustian dalam bukunya "Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual, ESQ (Emotional Spiritual Quotient)" penerbit Arga tahun 2001, dan menurut Toto Tasmara dalam bukunya "Kecerdasan Ruhaniah (Transcendental Intellegence)" penerbit Gema Insani Press tahun 2001 mengatakan bahwa Kecerdasan spiritual (SQ) harus bersumber dari ajaran agama yang dihayati sehingga seorang yang beragama sekaligus akan menjadi orang yang memiliki kecerdasan spiritual yang tinggi. Dengan kata lain orang yang beragama seharusnya sekaligus seorang spiritualis (SQ tinggi) dan seorang spiritualis seharusnya sekaligus orang yang beragama dengan baik.




HM. Jamaludin Ahmad, Psi
Psikolog Polda Metro Jaya

0 komentar: